Sunday, 5 July 2015

Matius 5:48: Kita Harus Sempurna Sama Seperti Bapa Kita di Sorga Sempurna

Matius 5:48: Kita Harus Sempurna Sama Seperti Bapa Kita di Sorga Sempurna
Matthew 5:48

(Matius 5:48 [LAI TB] Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.")
Yunani:Ἔσεσθε οὖν ὑμεῖς τέλειοι, ὥσπερ ὁ πατὴρ ὑμῶν ὁ ἐν τοῖς οὐρανοῖς τέλειός ἐστιν.
Transliteration: Esesthe oun hymeis teleioi, hosper ho pater hymon ho en tois ouranous teleios estin


Dalam ayat di atas dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa kita harus sempurna sama seperti Bapa kita yang di sorga itu sempurna. Kata “Sempurna” dalam ayat di atas menggunakan bahasa Yunani “Teleios τέλειός” yang artinya adalah “Sempurna, Utuh, Komplit, Dewasa, Tak Bercacat”. Standar ini adalah standar yang luar biasa tinggi yang dituntut oleh Tuhan Yesus kepada kita dimana Tuhan Yesus menghendaki kita untuk menjadi “Sempurna, Tak Bercacat, Utuh, dan juga Dewasa”.

Jika kita melihat ke dalam Septuaginta (Perjanjian Lama berbahasa Yunani), maka kita bisa memahami bahwa perintah Tuhan Yesus ini sebenarnya pengulangan perintah yang terdapat di dalam Hukum Taurat, tepatnya di dalam Ulangan 18:13

(Ulangan 18:13 [Septuaginta] Haruslah engkau “sempurna (Teleios τέλειός)” di hadapan Tuhan, Allahmu
Yunani: τέλειος ἔσῃ ἐναντίον κυρίου τοῦ θεοῦ σου
Transliteration: Teleios ese enantion Kyriou tou Theou sou


Jadi, sebenarnya perintah Tuhan Yesus ini agar kita semua harus “Sempurna” merupakan pengulangan perintah juga yang terdapat di dalam Hukum Taurat bahwa bangsa Israel juga harus “Sempurna, Tidak Bercacat” ketika mereka hidup sebagai umat Tuhan.

Standar ini jelas begitu tinggi sehingga menimbulkan pertanyaan, adakah yang sanggup memenuhi standar ini? Jika kita melihat kata “Teleios τέλειός” ini ke dalam Septuaginta (Perjanjian Lama berbahasa Yunani), maka kita akan menemukan beberapa orang yang Tuhan katakan sebagai orang-orang yang “Teleios τέλειός (Sempurna)”.

(Kejadian 6:9 [Septuaginta] Dan ini adalah riwayat Nuh, Nuh adalah seorang yang saleh, “Sempurna (Teleios τέλειος)” di antara generasinya, Nuh telah menyenangkan Allah)
Yunani: αὗται δὲ αἱ γενέσεις Νωε Νωε ἄνθρωπος δίκαιος τέλειος ὢν ἐν τῇ γενεᾷ αὐτοῦ τῷ θεῷ εὐηρέστησεν Νωε
Transliterasi: Autai de ai geneseis Noe, Noe anthropos dikaios, teleios on en te genea autou to Theo eurestesen Noe


Tepat sekali, kita bisa menemukan bahwa ternyata di dalam Perjanjian Lama, kita bisa menemukan bahwa sosok Nuh juga merupakan sosok yang “Sempurna (Teleios τέλειος)” di hadapan Allah. Nuh begitu saleh sehingga Alkitab tidak segan-segan mengatakan bahwa Nuh adalah sosok yang “Sempurna (Teleios τέλειος)” di hadapan Tuhan.

Jadi, apa kesimpulannya? Kesimpulannya jelas bahwa kita harus hidup saleh dan “Sempurna (Teleios τέλειος)” seperti Nuh. Nuh merupakan sosok yang penuh integritas dan taat dalam melakukan firman Tuhan. Nuh tidak terpengaruh dengan kebobrokan zamannya dimana pada zaman Nuh, semua orang hidup semau-maunya, mereka makan, minum, kawin mengkawinkan tanpa memikirkan Tuhan sama sekali. Inilah yang membuat mereka semua dibinasakan oleh Tuhan, sedangkan hanya Nuh saja yang diselamatkan

(Matius 24:37 [LAI TB] "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
24:38 Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
24:39 dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.)


Bagi kita semua yang sedang membaca artikel ini, ini bukan main-main. Tuhan sangat serius dalam hal ini bahwa kita harus hidup sebagaimana Nuh hidup. Nuh sama sekali tidak terkontaminasi dengan dunia pada zamannya. Nuh tetap hidup berintegritas dan takut akan Tuhan. Tuhan mewajibkan kita sebagai umat tebusannya untuk hidup “Sempurna (Teleios τέλειος)” sebagaimana yang telah Nuh contohkan kepada kita.

Sekarang era globalisasi dimana-mana, semua kefasikan dan trend modern merasuki seluruh umat manusia sehingga yang dipikirkan manusia hanyalah makan, minum, kawin mengkawinkan, harta, kesuksesan, gadget, dll. Kalau kita saat ini mengaku sebagai Kristen, tetapi hidup kita juga tidak ada bedanya dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan yang kerjaannya hanya makan, minum, kawin, mengkawinkan, maka kita pun juga tidak akan diselamatkan.

Bagaimana mungkin kita mengaku bahwa diri kita adalah “Sempurna (Teleios τέλειος)” di hadapan Allah, tetapi kita sama sekali tidak pernah mau peduli dengan Tuhan, tidak pernah mau tahu kehendak-Nya, tidak pernah mau memberitakan Injil, tidak pernah mau bergumul dengan Tuhan, kerjaan kita sama persis sehari-harinya dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, hanya makan, minum, kawin mengkawinkan, hura-hura, senang-senang, happy-happy, jalan-jalan, gadget, game, sinetron, drama korea, dll? Bagaimana mungkin kita bisa berkata bahwa kita “berbeda” dengan orang-orang sezaman kita kalau rutinitas kita juga tidak ada bedanya dengan orang-orang dunia?

Bagaimana mungkin kita bisa mengaku bahwa diri kita adalah “Sempurna (Teleios τέλειος)” di hadapan Allah, tetapi semua dosa-dosa kefasikan dunia, kita sama persis dengan mereka. Kita masturbasi, menonton video porno, berzinah, narkoba, merokok, mabuk-mabukkan, mencuri, suka berkelahi, garang, pemarah, dan berbagai macam hal-hal kefasikan dunia lainnya kita juga melakukannya?

Tuhan serius dalam hal ini. Kita harus tarik pelajaran dari Nuh yang sudah memberikan kepada kita sebuah contoh sebagai seorang yang “Sempurna (Teleios τέλειος)”. Ingat, Nuh diselamatkan dari air bah karena Tuhan melihat bahwa hanya Nuh saja yang layak untuk diselamatkan.

(Kejadian 6:8 [LAI TB] Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata YHWH.
6:9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.)

(Kejadian 7:1 [LAI TB] Lalu berfirmanlah YHWH kepada Nuh: "Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.)


Perhatikan, ini serius, bahwa ternyata Nuh mendapatkan kasih karunia di hadapan Tuhan sehingga dia tidak ikut binasa bersama-sama dengan air bah hanya karena kesalehan Nuh. Kita harus mencamkan hal ini baik-baik, karena penghakiman Tuhan akan datang atas dunia ini, beberapa contoh penghakiman kecilnya sudah Dia tunjukkan kepada kita karena dosa-dosa dunia ini, seperti misalnya tsunami Aceh, tsunami Jepang, dan berbagai macam hukuman Tuhan lainnya dan akan ada banyak tulah dan bencana yang akan terjadi untuk menghukum dunia ini. Jadi, kalau kita tidak ingin terkena segala tulah dari Tuhan tersebut, kita harus hidup “sempurna dan tak bercacat” sebagaimana yang Nuh telah lakukan.

Ini serius, kalau kita masih saja terus menerus hidup fasik dan tidak ada bedanya dengan orang-orang dunia. Ketika murka Tuhan itu turun, maka kita juga pasti akan terkena penghukuman Tuhan tersebut. Kalau kita ikut terkena, jangan salahkan Tuhan, tetapi berkacalah pada diri kita sendiri.

(Lukas 6:46 [LAI TB] "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?)

(Matius 7:21 [LAI TB] Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!")


Well, sekiranya siapapun yang membaca tulisan ini, akan mendapatkan berkat dan juga mereka dapat belajar untuk hidup “Sempurna (Teleios τέλειος)” sebagaimana yang Tuhan Yesus wajibkan kepada kita.

Salam Kasih. Tuhan Yesus memberkati

No comments:

Post a Comment

Post Terkait

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...