Friday, 29 July 2016

Kisah Para Rasul 10:15, Babi, Anjing, Udang, Kerang, Lele, Monyet, dll dihalalkan oleh Tuhan? Tuhan Berubah dan Plin Plan?

Kisah Para Rasul 10:15, Babi, Anjing, Udang, Kerang, Lele, Monyet, dll jadi dihalalkan oleh Tuhan? Tuhan Berubah dan Plin Plan?

(Kisah Para Rasul 10:15 [LAI TB] Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.")

Well, sebenarnya sudah malas menjelaskan ayat ini kepada banyak sekali orang Kristen bodoh (yang penulis maksud, bodoh dalam arti sengaja menjadikan dirinya bodoh demi hawa nafsunya, padahal fakta-fakta sudah menunjukkan bahwa mereka salah menafsir. Orang pintar adalah orang yang ketika sudah ditunjukkan kesalahannya, mau mengaku salah dan berubah, sedangkan orang bodoh adalah orang yang meskipun fakta-fakta sudah menunjukkan bahwa dia salah, dia tetap bertahan di dalam kesalahannya). Kenapa saya katakan demikian?

Entah sudah berapa banyak pendeta dan orang-orang Kristen yang menggunakan ayat ini untuk menyatakan bahwa babi, udang, kerang, lele, anjing, monyet, cumi-cumi, dan semua binatang yang dilarang Tuhan dalam Imamat 11 dan Ulangan 14 menjadi halal. Oleh karena itulah, hampir 95% orang Kristen membangun sebuah teologi yang berbahaya bahwa Tuhan tidak konsisten, berubah-berubah, plin plan sehingga Tuhan merubah sendiri perintah-Nya yang Dia ucapkan dalam Imamat 11 dan Ulangan 14 menjadi batal sehingga binatang-binatang seperti babi, udang, kerang, lele, siput, dll menjadi halal untuk dimakan. Jika Tuhan suka berubah-ubah dan plin plan begitu, maka mengapa kita masih yakin bahwa Tuhan saat ini tidak lagi berubah pikiran lagi dan mendadak Dia jadi galau dan mau membatalkan kita semua menjadi umat-Nya. Bukankah Tuhan suka berubah-ubah? Seperti biasa, kita pasti akan selalu memiliki standar ganda, kalau perintah-perintah yang tidak enak kedengarannya seperti soal makanan, hari sabat, dll maka kita akan segera mengatakan bahwa Tuhan sudah berubah (perintah itu sudah tidak berlaku). Namun, jika perintah-perintah yang enak dan menguntungkan, seperti berkat, keselamatan, dll kita langsung bersikukuh bahwa Tuhan tidak berubah. Ini adalah contoh ketidakkonsistenan dan ketidakjujuran kita sebagai orang Kristen dalam menafsir Alkitab.

Belajarlah menafsir Alkitab secara jujur, jangan pilih-pilih ayat. Jika anda pendeta saat ini yang sedang membaca tulisan ini, saya tantang anda untuk menjawab ketidakkonsistenan anda sendiri. Kalau masalah perpuluhan (yang berasal dari Hukum Taurat), anda katakan masih berlaku (perintah yang menguntungkan anda), tetapi kalau masalah babi, udang, kerang, lele, anjing, monyet, dan semua binatang haram lainnya di dalam Imamat 11 dan Ulangan 14, anda katakan tidak berlaku. Standar ganda bukan anda ini?

Penulis katakan sekali lagi, hanya orang Kristen bodoh saja yang menafsir ayat ini dengan mengira bahwa babi, udang, kerang, lele, dll jadi dihalalkan oleh Tuhan. Kenapa? Karena arti dari penglihatan Petrus soal munculnya binatang-binatang haram itu sudah diartikan sendiri oleh Petrus. Petrus sendiri sudah tahu arti dari penglihatan itu dan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kita jadi boleh makan babi, anjing, udang, kerang, lele.

Apa buktinya? Buktinya sebenarnya sudah ada di dalam Alkitab sendiri. Makna penglihatan ini sebenarnya sudah diartikan oleh Petrus sendiri. Mari kita lihat apa yang Petrus pahami soal penglihatan tersebut.

(Kisah Para Rasul 10:17 [LAI TB] Petrus bertanya-tanya di dalam hatinya, apa kiranya arti penglihatan yang telah dilihatnya itu. Sementara itu telah sampai di muka pintu orang-orang yang disuruh oleh Kornelius dan yang berusaha mengetahui di mana rumah Petrus.)

(Kisah Para Rasul 10:28 [LAI TB] Ia berkata kepada mereka: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.)

Lihat dan bacalah dengan jelas, arti dari penglihatan tersebut sudah dijawab oleh Petrus sendiri bahwa Petrus sudah mengatakan bahwa makna dari penglihatan itu adalah Allah ternyata tidak membeda-bedakan orang, baik Yahudi maupun non Yahudi. Kenapa? Karena pada waktu itu, orang-orang Yahudi menganggap bahwa orang-orang non-Yahudi itu haram/ najis sehingga mereka tidak layak untuk menerima keselamatan. Namun, Petrus ditegur oleh penglihatan tersebut di mana banyak sekali muncul binatang haram dan Petrus disuruh menyembelihnya. Malaikat berkata bahwa apa yang sudah dihalalkan oleh Allah tidak boleh engkau nyatakan haram. Maksudnya sudah jelas, Tuhan ingin menegur Petrus dan orang-orang Yahudi lain yang selalu menganggap bangsa-bangsa lain itu haram/ najis. Jadi Tuhan ingin menyampaikan bahwa dia sama sekali tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Inilah arti penglihatan tersebut. Jadi artinya bukan kita boleh makan babi, udang, kerang, lele, dll. Hanya Kristen bodoh yang masih menafsir seperti itu, apalagi kalau dia pendeta, bodohnya tidak ketolongan lagi.

Lalu, kenapa Tuhan harus memberikan penglihatan dalam rupa binatang-binatang haram kepada Petrus? Kenapa tidak dalam bentuk penglihatan lain, tetapi menggunakan penglihatan binatang-binatang haram?

Begini, kita harus paham penafsiran orang-orang Yahudi pada zaman itu. Tuhan ingin memberikan penglihatan dalam konteks yang dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman itu. Orang-orang Yahudi pada zaman itu mempunyai suatu penafsiran bahwa bangsa-bangsa non-Yahudi mereka identikkan dengan binatang-binatang haram dan najis. Contohnya di dalam Midrash Yahudi Leviticus Rabbah 13:5, di mana para rabbi-rabbi Yahudi menyebut binatang-binatang haram sebagai simbol dari bangsa-bangsa kafir, misalnya babi mereka simbolkan sebagai Roma, kuda (juga termasuk bnatang haram) mereka simbolkan sebagai Yunani, unta mereka simbolkan sebagai Babel

"Mengenai Imamat 11:4, unta merujuk kepada Babel, Imamat 11:5, pelanduk mengacu kepada Media, Imamat 11:6, Kelinci mengacu kepada Yunani, Imamat 11:7, Babi mengacu kepada Roma"
Ibrani: ויקרא יא ד) את הגמל, זו בבל, (ויקרא יא ה), את השפן, זו מדי, (ויקרא יא ו') את הארנבת, זו יון, (ויקרא יא ז), את החזיר, זו אדום)
Transliterasi: (Wayyiqra yod aleph daleth) et haggamal, zu bavel, (wayyiqra yod aleph hey), et hasshaphan, zu madday, (wayyiqra yod aleph waw), et haarnevet, zu yevan, (wayyiqra yod aleph zayin), et hakhazir, zu edom
(Midrash Yahudi, Leviticus/ Wayyiqra Rabbah 13:5)


Jadi silahkan sodara lihat sendiri, bahwa rabbi-rabbi Yahudi sudah menafsir pada zaman itu bangsa-bangsa asing sering diidentikkan dengan binatang-binatang haram. Itu sebabnya, adat orang-orang Yahudi pada zaman itu adalah sebuah kenajisan bagi orang-orang Yahudi untuk bergaul dengan bangsa non Yahudi, apalagi untuk makan semeja dengan bangsa non Yahudi.

Disinilah Tuhan ingin menegur Petrus dan orang-orang Yahudi yang menganut penafsiran seperti ini. Namun, Tuhan juga menegur dengan cara yang dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman itu, termasuk juga Petrus dengan menggunakan juga simbol-simbol dan konsep yang berlaku di antara orang-orang Yahudi pada zaman itu, yaitu dengan menggunakan penglihatan binatang-binatang haram. Itulah sebabnya, Tuhan memberikan penglihatan dalam bentuk penglihatan tentang binatang-binatang haram, yaitu dalam konteks yang dapat dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman itu, termasuk juga Petrus

Orang-orang Yahudi paham bahwa maksud dari binatang-binatang haram itu adalah bangsa-bangsa non-Yahudi. Itu sebabnya, Tuhan juga memberikan penglihatan kepada Petrus soal binatang-binatang haram karena Tuhan tahu bahwa Petrus akan mengerti artinya karena memang itu penafsiran yang umum pada zaman itu bahwa binatang haram adalah simbol dari bangsa non-Yahudi.

Tuhan ingin menegur Petrus dan orang-orang Yahudi pada zaman itu bahwa sama sekali tidak boleh menyebut bangsa-bangsa lain sebagai haram, najis, atau tidak tahir. Itu sebabnya makna dari binatang-binatang haram yang muncul itu adalah bangsa-bangsa non-Yahudi yang dianggap najis oleh bangsa Yahudi. Di sinilah Tuhan ingin menegur Petrus dan orang-orang Yahudi lainnya.

Itu sebabnya Petrus langsung mengerti dan berkata

(Kisah Para Rasul 10:28 Ia berkata kepada mereka: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.
10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.
10:35 Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.)


Jadi sudah jelas bahwa arti pengllhatan Petrus itu adalah bangsa-bangsa lain tidak boleh dinyatakan haram, tetapi bangsa-bangsa lain tersebut sudah dihalalkan oleh Allah untuk menerima keselamatan.

Jadi arti penglihatan Petrus itu bukanlah kita boleh makan babi, udang, kerang, lele, siput, anjing, monyet dan semua binatang lainnya yang dilarang Tuhan dalam Imamat 11 dan Ulangan 14.

So, setelah membaca tulisan ini, masih mau bertahan dalam kebodohan dengan memegang tafsiran bodoh (tafsiran orang tidak belajar) bahwa kita masih boleh makan babi, udang, kerang, lele, anjing? Apalagi kalau sodara yang sedang membaca tulisan ini adalah pendeta dan masih bertahan dengan penafsiran bodoh tersebut padahal sudah dijelaskan dengan lengkap?

Jadi bodoh itu ada batasnya

Salam Damai

1 comment:

  1. Semoga Roh Kudus membimbing setiap orang untuk mempelajari dan menerima kebenaran ini.

    ReplyDelete

Post Terkait

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...